Kamis, 26 Mei 2011

Kebijakan Pemerintah di Bidang Perekonomian Indonesia

Jika kita berbicara tentang perekonomian Indonesia, yang akan terpikir di benak kita adalah tentang kondisi dan keadaan ekonomi di Indonesia. Kondisi perekonomian Indonesia dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, misalnya pendapatan nasional dan Produk Domestik Bruto (PDB). pendapatan nasional dan PDB yang tinggi menandakan kondisi perekonomian suatu negara sedang bergairah.
pemerintah mempunyai berbagai kebijakan untuk menjaga atau memperbaiki kualitas perekonomian Indonesia.
yang pertama adalah kebijakan fiskal. kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
kebijakan fiskal mempunyai berbagai bentuk. salah satu bentuk kebijakan fiskal yang sedang marak adalah BLT. banyak orang melihat BLT hanya bantuan kepada orang yang kurang mampu. sebenarnya di balik itu ada tujuan khusus dari pemerintah. BLT diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, daya beli masyarakat juga meningkat. dengan demikian permintaan dari masyarakat juga meningkat. meningkatnya permintaan dari masyarakat akan mendorong produksi yang pada akhirnya akan memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia.
contoh lain dari kebijakan fiskal adalah proyek-proyek yang diadakan oleh pemerintah. katakanlah pemerintah mengadakan proyek membangun jalan raya. dalam proyek ini pemerintah membutuhkan buruh dan pekerja lain untuk menyelesaikannya. dengan kata lain proyek ini menyerap SDM sebagai tenaga kerja. hal ini membuat pendapatan orang yang bekerja di situ bertambah. dengan bertambahnya pendapatan mereka akan terjadi efek yang sama dengan BLT tadi.
kebijakan fiskal juga dapat berupa kostumisasi APBN oleh pemerintah. misalnya dengan deficit financing. defcit financing adalah anggaran dengan menetapkan pengeluaran > penerimaan. deficit financing dapat dilakukan dengan berbagai cara. dahulu pemerintahan Bung Karno pernah menerapkannya dengan cara memperbanyak utang dengan meminjam dari Bank Indonesia. yang terjadi kemudian adalah inflasi besar-besaran (hyper inflation) karena uang yang beredar di masyarakat sangat banyak. untuk menutup anggaran yang defisit dipinjamlah uang dari rakyat. sayangnya, rakyat tidak mempunyai cukup uang untuk memberi pinjaman pada pemerintah. akhirnya, pemerintah terpaksa meminjam uang dari luar negeri.
tidak hanya Indonesia, tetapi Amerika Serikat juga pernah menerapkan deficit financing dengan mengadakan suatu proyek. proyek tersebut adalah normalisasi sungan Mississipi dengan nama Tenesse Valley Project. proyek ini dimaksudkan agar tidak terjadi banjir. proyek ini adalah contoh proyek yang menerapkan prinsip padat karya. dengan adanya proyek ini pengeluaran pemerintah memang bertambah, tetapi pendapatan masyarakat juga naik. pada akhirnya hal ini akan mendorong kegiatan ekonomi agar menjadi bergairah.
mari kita mengingat sedikit kejadian pada akhir tahun 1997 saat terjadi krisis moneter di Indonesia. pada saat itu nasabah berduyun-duyun mengambil uang di bank (fenomena bank rush) karena takut bank tidak mempunyai dana yang cukup untuk mengembalikan tabungan mereka. untuk mengatasi masalah ini bank-bank umum diberi pinjaman dari Bank Indonesia yang disebut Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI).
pada saat itu memang seluruh tabungan dijamin oleh pemerintah, maka dari itu pemerintah juga harus mengambil tindakan saat terjadi fenomena tadi.
seharusnya saat suatu perusahaan (termasuk bank umum) kekurangan modal pemilik harus menambah modalnya pada perusahaan tersebut. ini berlaku pada umum dan pemerintah. jika pemerintah kekurangan dana, pemerintah bisa menambah dana dengan menjual saham yang dimiliki pemerintah. perlu diingat, ada beberapa perusahaan yang sahamnya dimiliki pemerintah.
kebijakan yang kedua adalah kebijakan moneter. kebijakan moneter adalah kebijakan dengan sasaran mempengaruhi jumlah uang yang beredar. jumlah uang yang beredar dapat dipengaruhi oleh Bank Indonesia. selain dengan langsung menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar, mengatur jumlah uang yang beredar juga bisa menggunakan BI Rate. BI rate adalah instrumen dari pemerintah untuk acuan seberapa besar bunga simpanan jangka pendek, misalnya Surat Berharga Indonesia. biasanya bank-bank umum akan menaikkan atau menurunkan suku bunganya seiring dengan naik atau turunnya BI Rate. maka dari itu, saat BI Rate diturunkan, suku bunga kredit juga turun, sehingga biaya investasi ikut turun. dari sini, diharapkan investasi meningkat.
kebijakan moneter juga mengatur tentang giro wajib minimum, yaitu jumlah simpanan bank umum di Bank Indonesia yang merupakan sebagian dari titipan pihak ketiga. saat ini giro wajib minimum sebesar 8 % dari titipan pihak ketiga.
kebijakan moneter juga berpengaruh dalam perdagangan internasional dengan mengendalikan tarif ekspor impor. jika tarif impor naik, dorongan untuk impor berkurang. jika tarif impor turun, dorongan untuk ipmpor bertambah dan harga barang-barang impor menjadi lebih murah.
sedikit tambahan, sekitar 95 % kapas yang digunakan sebagai produksi di Indonesia adalah hasil impor. dalam kasus ini industri katun sebagai hasil olahan kapas dalam negeri akan turun jika tarif impor naik.
satu lagi kebijakan yang dimiliki pemerintah Indonesia adalah kebijakan sektoral. kebijakan ini menitikberatkan pada satu dari sembilan sektor perekonomian di Indonesia. misalnya, di sektor pertanian pemerintah memberikan subsidi pupuk. subsidi ini diberikan agar harga pupuk murah. dengan demikian pupuk akan terdorong untuk dipakai. contoh lainnya adalah kebijakan di sektor industri. di sektor ini pemerintah membuat kebijakan kawasan ekonomi khusus. kawasan ekonomi khusus adalah kawasan yang khusus digunakan untuk pendirian industri. misalnya, kawasan industri Cilacap. kawasan ini mempunyai hak khusus, misalnya di Batam impor bahan mentah tidak terkena pajak, sehingga hal ini akan mendorong produksi di sana.

Masalah-masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi
1.Masalah kemiskinan
Upaua penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya program IDT (Inpres Desa Tertinggal), KUK (Kredit Usaha Kecil), KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen) PKT (Program Kawasan Terpadu), GN-OTA dan program wajib belajar.
2.Masalah Keterbelangkangan
Masalah yang dihadapi adalah rerndahnya tingkat pendapatan dan pemerataannya, rendahnya pelayanan kesehatan, kurang terpeliharanya fasilitas umum, rendahnya tingkat disiplin masyarakat, renddahnya tingkat keterampilan, rendahnya tingkat pendidikan formal, kurangnya modal, produktivitas kerja, lemahnya manajemen usaha. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah berupaya meningkatkan kualitas SDM, pertukranan ahli, transper teknologi dari Negara maju.
3.Masalah pengangguran dan kesempatan kerja
Masalah pengangguran timbul karena terjadinya ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah melakukan pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memeiliki keahlian sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia, pembukaan investasi baru, terutama yang bersifat padat karya, pemberian informasi yang cepat mengenai lapangan kerja
4. Masalah kekurangan modal
Kekurangan modal adalah suatu cirri penting setiap Negara yang memulai proses pembangunan. Kekurangan modal disebabkan tingkat pendapatan masyarakat yang rendah yang menyebabkan tabungan dan tingkat pembentukan modal sedikit. Cara mengatasinya memlaui peningkatan kualitas SDM atau peningkatan investasi menjadi lebih produktif.
Peran dan Fungsi Pemerintah di Bidang Ekonomi
  1. Fungsi stabilisasi, yaitu fungsi pemerintah dalam menciptakan kestabilan ekonomi, sosial politik, hokum, pertahanan dan keamanan.
  2. Fungsi alokasi, yaitu fungsi pemerintah sebagai penyedia barang dan jasa public, seperti pembangunan jalan raya, gedung sekolah, penyediaan fasilitas penerangan, dan telepon.
  3. Fungsi distribusi, yaitu fungsi pemerintah dalam pemerataan atau distribusi pendapatan masyarakat.
SUMBER:
http://penxpower.wordpress.com/2009/02/20/berbagai-kebijakan-pemerintah-dalam-perekonomian-indonesia/

Selasa, 26 April 2011

DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN DI INDONESIA

Dalam distribusi pendapatan baik antarkelompok berpendapatan, antardaerah perkotaan dan daerah pedesaan, atau antarkawasan dan propinsi dan kemiskinan merupakan dua masalah yang masih mewarnai perekonomian Indonesia Pada awal pemerintahan orde baru, perencanaan pembangunan ekonomi di Indonesia masih sangat percaya bahwa apa yang dimaksud dengan trickle down effect akan terjadi. Oleh karena itu, strategi pembangunan diterapkan oleh pemerintah pada awal periode orde baru hingga akhir tahun 1970-an terpusatkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pusat pembangunan dimulai di Pulau Jawa, khususnya Propinsi Jawa Barat, karena fasilitas seperti infrastruktur lebih tersedia dibandingkan dipropinsi lainnya di Indonesia dan di beberapa propinsi hanya dibeberapa sector saja yang bisa dengan cepat memberi pertumbuhan misalnya sector primer dan industri berat. Setelah sepuluh tahun pelita I dimulai, mulai kelihatan bahwa efek yang dimaksud itu mungkin tidak dapat dikatakan sama sekali tidak ada, tetapi proses mengalir kebawahnya sangat lamban. Sebagai akibatnya, Indonesia menikmati laju pertumbuhan yang relatif tinggi, tetapi pada waktu yang bersamaan tingkat kesenjangan semakin membesar dan jumlah orang miskin semakin banyak. Tepatnya setelah pelita III, strategi pembangunan mulai diubah. Tidak hanya pertumbuhan tetapi juga kesejahteraan masyarakat, tidak hanya dijawa, tetapi juga diluar jawa, menjadi kesejahteraan masyarakat, misalnya dengan mengembangkan industri yang padat karya dan sector pertanian . hingga saat ini sudah banyak program pemerintah yang berorientasi mengurangi kemiskinan, seperti inpres pedesaan, transmigrasi, dan masih banyak lagi. Masalah kesenjangan ekonomi (pendapatan) dan kemiskinan di Indonesia akan dibahas. Faktor-faktor yang menyebabkan kesenjangan dan kemiskinan tetap ada ditanah air walaupun pembangunan ekonomi berjalan terus dan Indonesia memiliki laju pertumbuhan yang relatif tinggi.
Di negara Indonesia ini secara grafis dan klimatogis merupakan negara yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat tinggi. Dengan garis ppantai yang terluas di dunia, iklim yang memungkinkan untuk pendayagunaan lahan sepanjaang tahun, hutan dan kandungan bumi Indonesia yang sangat kaya, merupakan bahan yang utama untuk membuat negara kita menjadi kaya. Suatu perencanaan yang bagus yang mampu memanfaatkan semua bahan baku tersebut secara optimal, akan mampu mengantarkan negara Indonesia menjadi negara yang makmur akan hasil pertaniannya dan hasil rempah-rempahnya. Ini terlihat dari hasil Pelita III sampai dengan Pelita V yang dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% - 8% membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan penduduk yang tinggi. Dan Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat julukan “Macan Asia”.
Namun ternyata semua pertumbuhan ekonomi dan pendapatan tersebut ternyata tidak memberikan dampak yang cukup berati pada usaha pengentasan kemiskinan. Indonesia adalah sebuah negara yang penuh paradoks. Negara ini subur dan kekayaan alamnya melimpah, namun sebagian cukup besar rakyat tergolong miskin. Pada puncak krisis ekonomi tahun 1998-1999 penduduk miskin Indonesia mencapai sekitar 24% dari jumlah penduduk atau hampir 40 juta orang. Tahun 2002 angka tersebut sudah turun menjadi 18% dan pada menjadi 14% pada tahun 2004. Situasi terbaik terjadi antara tahun 1987-1996 ketika angka rata-rata kemiskinan berada dibawah 20%, dan yang paling baik adalah pada tahun 1996 ketika angka kemiskinan hanya mencapai 11,3%.
Di Indonesia pada awal orde baru para pembuat kebijakkan perencanaan pembangunan di Jakarta masih sangat percaya bahwa proses pembangunan ekonomi yang pada awalnya terpusatkan hanya di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya, dan hanya disektor-sektor tertentu saja pada akhirnya akan menghasilkan “Trickle Down Effect” . Didasarkan pada pemikiran tersebut, pada awal orde baru hingga akhir tahun 1970-an, strategi pembangunan ekonomi yang dianut oleh pemerintahan orde baru lebih berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa memperhatikan pemerataan pembangunan ekonomi.
Krisis yang terjadi secara mendadak dan diluar perkiraan pada akhir dekade 1990-an merupakan pukulan yang sangat berat bagi pembangunan Indonesia. Bagi kebanyakan orang, dampak dari krisis yang terparah dan langsung dirasakan, diakibatkan oleh inflasi. Antara tahun 1997 dan 1998 inflasi meningkat sebesar 6% menjadi 68%, sementara upah rill turun menjadi hanya sekitar sepertiga dari nilai sebelumnya. Akibatnya, kemiskinan meningkat tajam. Antara tahun 1996 dan 1999 proporsi orang yang hidup dibawah garis kemiskinan bertambah dari 18% menjadi 24% dari jumlah penduduk. Pada sat yang sama, kondisi kemiskinan menjadi semakin parah, karena pendapatan kaum miskin secara keseluruhan menurun jauh dibawah garis kemiskinan. 

Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut

Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut Memperlihatkan kadar parahnya masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga.Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut Memperlihatkan kadar parahnya masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga.

 

 

 

 





Kesimpulan
Tingkat kesenjangan ekonomi dan jumlah penduduk miskin di Indonesia berkurang dan dapat dikatakan bahwa perubahan ini merupakan salah satu hasil pembangunan ekonomi ditanah air selama ini. Namun masih banyak permasalahan dengan kemiskinan dan kesenjangan.
Hingga saat ini, penentu garis kemiskinan masih berdasarkan kebutuhan fisik dan pendidikan tinggi. Tanpa adanya pendidikan yang baik tidak akan bisa terjadi progres di dalam kehidupan.
Sumber

 Sumber:

http://www.denyrendra.net/search/distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan

http://www.lintasberita.com/Nasional/Keuangan/distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan

 

Melipatgandakan Rezeki

Bila ngomong persoalan rezeki pasti jadi satu perbincangan yang seru dan ga akan ada habisnya untuk diobrolin, apalagi jika yang dibahas mengenai bagimana meningkatkannya rezeki syukur-syukur bisa sampai berlipat ganda. Ini bisa dibuktikan dengan laris manisnya buku yang bertemakan rezeki, bahkan hingga menjadi mega bestseler dan di setiap toko buku jadi buku paling dicari konsumen. Begitulah manusia segala cara dilakukan untuk melipatgandakan rezeki ada yang haram lewat dukun misalnya, mendatangi tempat tempat keramat, namun yang menggunakan jalur halal juga banyak berusaha sekuat tenaga dengan mengumpulkan rezeki perlahan-lahan seperti kata pepatah "sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit" apa pun caranya yang jelas ini digunakan untuk melipatgandakan rezeki. lepas dari tujuan itu apakah untuk foya-foya, memenuhi kebutuhan hidup, atau untuk mempermudah dalam beramal.

Memang sih hari gini siapa yang ga pingin rezekinya berlipat ganda, pasti semua pingin termasuk saya juga (hehehe). namun keinginan hanya sekedar keinginan tanpa dibarengi dengan keyakinan dan kemudian usaha.(keyakinan dan usaha ini hanya dua hal yang umum, penjabarannya insyaallah bersambung di tulisan berikutnya) bisa dilihat kembali saya meletakkan keyakinan terlebih dulu baru kemudian usaha. tentunya ada alasannya kenapa saya tulis sebagi yang pertama, menurut saya keyakian itu percaya, percaya sama tuhan tentunya, pada sang pemberi rezeki. ya kunci melipatgandakan rezeki tentunya percaya dengan yang memberi rezeki. Dengan percaya maka kita otomatis melibatkan tuhan dalam tujuan meipatgandakan rezeki, padahal bila tuhan terlibat terkadang kita baru akan berusaha bahkan baru mau melangkah (belum berusaha) sudah diberikan rezeki yang kita butuhkan tersebut, begitulah cara kerja tuhan terkadang mengejutkan, karena apapun bisa dilakukannya termasuk memberi rezeki dengan jalan yang tidak disangka-sangka, dan diduga-duga manusia, tau tau ada dan malah yang menerima sendiri heran kok bisa dapat rezeki ini sedangkan difikir secara logika juga rasa-rasanya sulit. ajaib memang kerja tuhan, dia memiliki banyak cara untuk membahagiakan orang-orang yang mempercayainya.

Selain yakin kita juga harus berusaha, usaha baiknya kita anggap sebagi upaya untuk menjemput rezeki. Usaha  yang melibatkan tuhan tentunya(hehehe.. kembali lagi ke atas) saya kembalilakan lagi karena orang terkadang membatasi kemampuan tuhan, pasti pernah mendengar suara-suara, curahatan-curhatan yang bilang "bila tidak berusaha dengan keras maka tidak akan bisa meraih keinginan, bila ingin sesuatu tadak ada yang jatuh dari langit" menurutku dengan berkata demikian kita telah melupakan cara kerja tuhan yang ajaib. karena jika tuhan menghendaki tanpa kerja keras bila tuhan menghendaki bisa-bisa saja keinginan tersebut terwujud. Kerja keras harus di jalankan dan memang sudah benar, kekurangan yang sering di lakukan manusia hanya membatasi cara kerja tuhan(walupun tuhan tidak terpengaruh sekalipun kita membatasinya),  mari kita merubah persepsi negatif seperti yang saya contohkan tadi. mari kita berusaha menjemput rezeki, akan tetapi kita buka kesempatan kesempatan yang akan diberikan oleh tuhan.


Salam beruntung..

Y.P. Nugraha

Kamis, 21 April 2011

CIPTAKAN KEBERUNTUNGANMU

Kuliah Salah Jurusan

Saya sangat yakin bagi orang yang pernah kuliah sering mendengar baik dari sahabat, kawan, mengenai keluhan bahwa dia menyesal telah kuliah di jurusan yang ambil sekarang, ucapan ucapan seperti "pilihanku salah; seharusnya aku kuliah disana; ini bukan minatku" sering terdengar ditelinga, tak asing lagi malah. Kondisi salah jurusan seolah-olah akan membawa kehancuran pada masa depannya. Banyak juga yang kemudian menyadari bahwa ini bukan minatnya, sehingga segera diambil keputusan mengulang kembali ditahun berikutnya dengan jurusan yang sesuai karakternya. Bila mau hitung-hitungan waktu, pasti akan ada waktu yang terbuang, bukan berarti sia-sia pasti ada manfaat laint dari pengalaman yang dialami minimal keberanian untuk mengambil sebuah keputusan. karena keputusan kecil yang kita ambil sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan terutama menyangkut masa depan. Bagi saya orang seperti ini luar biasa, berani mengambil keputusan, dengan kata lain berani memperjuangkan masa depannya.  Saya sepakat masa depan yang diimpikan harus diperjuangkan meskipun risiko kehilangan waktu berharganya, saking berharganya sampai-sampai orang bilang waktu adalah uang.
Bisa dilihat juga dalam kondisi salah jurusan, tidak sedikit yang bertahan ketika telah menyadari bahwa yang dijalani bukan sesatu yang diminati, parahnya bagi mereka yang tidak berminat hal ini sering dianggap sebagi sesuatu yang membosankan, tak sedikit yang menyerah dan memutuskan untuk berhenti di tengah jalan, berhenti bertanding sebelum sampai garis finis. Kepercayaan yang orang tua berikan ketika awal masuk dilupakan dan dekalahkan egonya, dikalahkan ketidaknyamanannya. bermalas-malasan dengan dalih ini bukan minatku, dan mewajarkan hasil yang buruk lagi lagi karena itu bukan minatku. semoga jarang mahasiswa tipe seperti ini. 
saya salut dengan orang-orang yang menjalankan kuliah walapun jurusan yang tidak diminati dan justru bisa berprestasi, orang-orang seperti ini yang menurutku orang hebat bisa bertahan di tengah ketidaknyamanan.. Berprestasi sesuai minat juga bagus, akan tetap wajar karena memang minatnya. mari kita pandang persoalan satu ini secara positif, dengan melihat dari sudut pandang lain supaya kita(orang-orang yang menganggap dirinya slah jurusan) bisa berprestasi. Bagi ku esensi dari kuliah selain ilmu adalah sebuh tantangan, dimana ketika satu tantangan ini selesai maka satu tantangan terlewati, dengan melewati itu maka kita akan semakin terlatih untuk menghadapi tantangan-tantangan yang berikutnya. semakin tidak sesuai dengan yang diminati semakin berat tantanganya, dan seirimg dengan itu bila berhasil melewati maka semakin besar pula kemampuan individu beradaptasi dengan tantangan yang ada.

Salam Beruntung..
Y.P. Nugraha
 
http://menciptakankeberuntungan.blogspot.com/2011/04/kuliah-salah-jurusan.html#comment-form

Kamis, 24 Maret 2011

Perekonomian Indonesia JAYA!!!!

BAB 1 PENDAHULUAN

KATA PENGANTAR
      Dengan Mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah ini .
Makalah ini adalah  sebagai syarat tugas  bagi mahasiswa- mahasiswi untuk menyelesaikan tugas dari mata kuliah Pertekonomian Indonesia
      Makalah ini disusun berdasarkan sumber yang saya peroleh dari penelitian serta pencatatan data dan dari internet. Judul makalah ini adalah : “Perekonomian Indonesia JAYA “. Tema dan judul tersebut saya buat berdasarkan sumber yang saya dapat.
      Melalui makalah ini kami dapat mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi permintaan terhadap faktor produksi tenaga kerja.
       Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangannya. Oleh karena itu saya sangat menghargai segala macam kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan Makalah ini.


                                                                                             Jakarta, 24 Maret 2011
                                                                                                                               

BAB 2 PEMBAHASAN


PETA PERGESERAN PEREKONOMIAN DI DUNIA



Krisis ekonomi global dapat mempercepat pergeseran kekuatan di tingkat dunia. Negara China dalam PDB dunia berdasarkan nilai tukar berlaku (current exchange rate) akan berada pada posisi kedua setelah Amerika Serikat dalam dua tahun ini, menggeser posisi Jepang yang turun menjadi posisi ketiga, dapat dilihat pada tabel dibawah ini (Tabel A.1):




Selain China yang telah menggeser Jepang mmenjadi posisi ke tiga, ada juga negara-negara yang dapat menggeser negara diatasnya, yaitu negara India yang menyusul negara Jerman dan menjadikan India pada posisi ke empat, Rusia pada ukuran ketujuh, dan Brazil pada urutan kesembilan. Ditambah juga dengan negaraa Korea, Meksiko dan Turki, menjelemah kekuatan yang dijuluki Emerging Market‐7 (EM‐7). Kekuatan baru ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dunia menggantikan negara‐negara G‐7 (Peraga A.1).



Berdasarkan kawasan, Asia adalah yang paling menonjol. China dan India berada pada lapisan pertama. Sementara itu pada lapisan kedua ialah: Korea, Indonesia, Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Ketujuh perekonomian ini—yang dijuluki Emerging Asia (EA‐7)—tumbuh pesat dan semakin meninggalkan G‐7 (Peraga A.2). Emerging Asia menunjukkan proses pemulihan yang cukup mencengangkan. Setelah beberapa perekonomian mengalami kemerosotan tajam sejak paruh kedua 2008, memasuki triwulan kedua 2009 pulih dengan kecepatan tinggi mendahului pemulihan di Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini mengindikasikan bahwa EA‐7 semakin melepaskan ketergantungannya kepada G‐7. Lebih dari itu, EA‐7 telah mampu menggantikan Amerika Serikat dan Eropa sebagai pendongkrak utama pemulihan ekonomi dunia, suatu fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bertolak dari gambaran di atas sudah sepatutnya forum G‐20 semakin diperkuat dengan kelembagaan yang lebih permanen untuk menghasilkan tatanan perekonomian dunia yang lebih adil dan efektif menyelesaikan persoalan‐persoalan mendasar perekonomian dunia.



Pergeseran kekuatan ekonomi dunia juga tercermin dari peta kekuatan di industri keuangan. Jika sebelum krisis global 20 besar perusahaan keuangan seluruhnya berasal dari negara‐negara Barat (plus Jepang), kini bermunculan kekuatan baru. China tiba‐tiba menempatkan 5 bank dalam jajaran 20 besar, bahkan memborong posisi tiga besar. Satu bank dari Brazil sudah pula mencuat ke posisi terhormat (Peraga A.3).


Kemunculan negara‐negara Emerging Market terlihat pula pada jajaran 12 besar korporasi dunia. Bahkan nilai kapitalisasi PetroChina sudah menggeser Exxon Mobil pada posisi teratas. Masih ada tiga perusahaan China (termasuk Hongkong) yang masuk ke jajaran elit ini. Selain itu, lagi‐lagi, Brazil sudah mampu menempatkan satu perusahaan (Petrobras) pada posisi 12 besar dunia (Peraga A.4).



Sejak tahun 2009 China negara pengekspor terbesar, menggeser Jerman yang sudah bertahun‐tahun di posisi teratas. Di urutan ke‐9 adalah Russia dan pada urutan ke‐11 adalah Korea. Sisanya masih diduduki oleh Amerika Serikat dan negara‐negara Eropa (Peraga A.5). Sementara itu, negara‐negara yang tergolong Emerging Market mendominasi di papan tengah (Peraga A.6). Indonesia pun sudah masuk di kelompok papan tengah ini.






Ekonomi Indonesia dan Daerah 2011

Pertumbuhan Ekonomi
Tahun 2011 adalah tahun tantangan bagi perekonomian Indonesia. Ekonomi global 2010 dan 2011 masih melambat (IMF,2010). Amerika Serikat tumbuh 2,6% dan penganggurannya 9,6% (2010). Krisis utang Eropa di PIGS (Portugal, Irlandia, Greece dan Spayol) membuat kawasan Eropa tumbuh 1,7% (2010). Negara maju tumbuh 2,2%. Perdagangan dunia 7,0% dan ekonomi global 2011 diperkirakan tumbuh 4,2% dimana Asia Pasifik, terutama India dan China, masih sebagai motor ekonomi dunia. Beberapa lembaga memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2010 dan 2011 dengan berbeda, seperti ADB 6,1% pada 2010 dan 6,3% pada 2011, Bank Dunia (6,0% dan 6,2%), IMF (6,0% dan 6,2%), Standart Chartered (6,0% dan 6,2%), Danamon (6,0% dan 6,4%) serta APBN (5,8% dan 6,4%)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia bervariasi. Pada kurun waktu 1968-1982, rata-rata pertumbuhannya berkisar 7.65% per tahun. Ketika terjadi external shocks (OPEC Oil Price Shock 1979/1980) rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia turun menjadi 4.5%. Indonesia pulih kembali di penghujung 1980an. Periode 1989 - 1993, pertumbuhan ekonomi sekitar 7%. Pada 1994-1996 menjadi 7.9% per tahun. Sesaat setelah krisis moneter, pertumbuhan ekonomi Indonesia kolaps hingga -13.1%. Tahun-tahun selanjutnya meski positif, pertumbuhan relatif rendah dibanding sebelum krisis, hanya mencapai 5% selama 2000-2010. Pengalaman ini tentu harus dicari hikmahnya agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih tinggi, berkualitas dan mampu membawa kemakmuran rakyat secara merata.
Target pertumbuhan ekonomi APBNP 2010 (5,8%) terlampaui menjadi 6,1%. Namun, inflasi di tahun 2010 tidak sesuai target (5,3%) karena aktualnya menjadi 6,9%. Tabel 1 menjelaskan beberapa prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan 2011 bisa lebih baik karena perkembangan baik di China dan India. Target APBN 2011 adalah 6,4%. Dalam target itu ditetapkan tiap 1% pertumbuhan harus membuka 400.000 lapangan kerja baru, dengan harapan pemerintah makin keras bekerja agar pengangguran dan kemiskinan terus ditekan. Walau target pertumbuhan ekonomi 2011 lebih tinggi 2010, suku bunga (6,5%) dan inflasi (5,3%) ditetapkan sama seperti target 2010. Nilai tukar rupiah diharapkan menguat dari Rp 9300 (2010) menjadi Rp 9.250 (2011) dan PDB meningkat lebih dari Rp 766 triliun di tahun 2011 dibanding 2010 (Rp 6.254 triliun). Nilai tukar rupiah menguat di bawah Rp 9000/USD.

Tabel 2: Asumsi APBN 2005- 2011
Indikator Ekonomi
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011






RAPBN
Kesepakatan Komisi XI dan Komisi VII
Produk Domestik Bruto








Pertumbuhan (%)
5.7
5.5
6.3
6
4.5
5.8
6.3
6.4
Nominal (Milliar Rp)
2.774.281.10
3.339.216.8
3.950.892.20
4.561.356.7
5.613.441.7
6.253.789.5
7.006.726.8

Tingkat Kemiskinan (%)
18.3
17.75
16.58
15.42
14.15
13.33


Tingkat Pengangguran (%)
10.28
9.11
8.39
7.87
7.41



Income Gap


0.36
0.35
0.37



Inflasi (%)
17.1
6.6
6.6
11.1
2.8
5.3
5.3
5.3
Nilai Tukar (Rp/US$)
9.705
9.164
9.14
96.91
10.408
9.200
9.300
9.250
SBI 3 Bulan (%)
9.1
11.7
8
9.3
7.6
6.5
6.5
6.5
ICP (USB/barel)
51.8
63.8
69.7
97
61.6
80
80
80
Lifting (Ribu Barel/hari)
999
959
899
931
944
965
970
970

Sumber: UU APBN

Yang menarik, kurs rupiah menguat ditentang eksportir dan Bank Indonesia (BI) karena merugikan mereka. Sebaliknya, menguntungkan keuangan pemerintah dan importir karena beban utang ringan dan daya beli importir menguat. BI cukup lama mampu menahan SBI 6,5%, walau kemudian menaikkan menjadi 6,75% yang tidak disukai Komisi XI DPR. Selama 5 tahun terakhir, BI tidak mampu menurunkan SBI di bawah 6%. Kebijakan ini tidak kompetitif dibanding negara tetangga dan sekaligus memukul sektor riel. BI berargumen, SBI bergantung pada tingkat inflasi, sementara inflasi sangat dipengaruhi oleh administered prices dan volatile food prices, yang lebih menjadi domain Pemerintah, baik Pusat maupun daerah. Pasal 7 ayat 1 UU 3/2004 tentang BI menyatakan "tujuan BI adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah." Sampai sekarang belum ada responsibility measurement antara BI dan Pemerintah tentang bertanggungjawab atas inflasi. Core inflation ditetapkan 4%, sebelumnya 3%, tidak mustahil meningkat bila penanganan tidak serius. Pembentukan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) patut didukung pemerintah daerah karena inflasi daerah menyumbang inflasi nasional.

Pertumbuhan Sektoral
Periode 10 tahun terakhir, kontributor terbesar PDB adalah Industri pengolahan hingga akhir 2009 mencapai 26.4%. Proyeksi 2011 diperkirakan 26.6%. Industri pengolahan seperti migas; peralatan transportasi; makanan, rokok, dan pupuk; produksi kimia, tekstil, produk kulit dan alas kaki, yang menggunakan padat modal dan teknomogi tinggi. Sektor kontributor terkecil adalah listrik, gas, dan air bersih. Sektor pengangkutan dan komunikasi 0.8% dan 6.3% di 2009 diproyeksi sama terjadi di tahun 2011.
Sektor pertanian terus menurun di tahun 2009 (15,3 %) dan diperkirakan sama pada 2011. Sektor pertambangan dan penggalian porsinya menurun hingga 10.5% pada 2009. Sumber ini bersifat unrenewable. Mengubah struktur sektoral sehingga Indonesia menjadi negara modern memerlukan perhatian serius dari pengambil kebijakan. Secara nasional laju pertumbuhan PDB 2000-2009 cenderung meningkat tapi per sektor perubahannya bervariasi. Selama periode ini pertumbuhan tertinggi terlihat pada sektor transportasi dan komunikasi sebesar 17.1% diikuti listrik, gas dan air 14.7%, jasa 7.4% dan industri konstruksi 6.4%.
Tabel 3: Perkembangan Distribusi PDB Sektoral Tahun 2000-2009 (%)
Lapangan Usaha
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Pertanian
15.6
15.64
15.47
15.39
15.23
13.1
13
13.7
14.5
15.3
Pertambangan dan Penggalian
12.07
11.66
11.28
10.66
9.67
11.1
11
11.2
10.9
10.5
Industri Pengolahan
27.75
27.6
27.85
27.97
28.25
27.4
27.5
27.1
27.9
36.4
Listrik, Gas dan Air Bersih
0.6
0.63
0.66
0.66
0.67
1
0.9
0.9
0.8
0.8
Konstruksi
5.51
5.55
5.61
5.7
5.87
7
7.5
7.7
8.5
9.9
Perdagangan, hotel dan restoran
16.15
16.24
16.16
16.23
16.33
15.6
15
14.9
14
13.4
Pengangkutan dan Komunikasi
4.68
4.87
5.06
5.38
5.77
6.5
6.9
6.7
6.3
6.3
Keuangan
8.31
8.53
8.69
8.87
9.09
8.3
8.1
7.7
7.4
7.2
Jasa
9.34
9.28
9.23
9.14
9.12
10
10.1
10.1
9.7
10.1
Sumber : CEIC data dan Nota Keuangan
Tabel 4: Sektoral PDB 2009-2011
Lapangan Usaha
2009
Outlook
2010
2011
PDB
4.5
5.9
6.4
Pertanian
3.3
3.6
4
Pertambangan dan Penggalian
5.1
3.2
3.8
Industri Pengolahan
2.1
4.1
4.5
Listrik, Gas dan Air Bersih
14.7
6.6
8.2
Konstruksi
6.4
7.4
8.7
Perdagangan, hotel dan restoran
0.5
8.7
8.3
Pengangkutan dan Komunikasi
17.1
12.2
12.6
Keuangan
5.6
6.2
6.4
Jasa
7.4
5.6
5.7


Sumber : Depkeu (2010)
Sektor pertanian pertumbuhannya fluktuatif rata-rata 4%, walau sektor ini menampung lebih 40% tenaga kerja. Sejak krisis moneter 1998, jumlah penduduk bekerja di sektor pertanian meningkat mencapai hampir 50% tahun 2002. Di Februari 2010, pekerja sektor pertanian 42.83%. Transformasi perekonomian dari sektor primer ke industri dan jasa belum berhasil, karena penyerapan tenaga kerja meningkat di sektor pertanian.

Grafik 2: PDB Sektoral 2011
Di sisi permintaan, selama 10 tahun sektor konsumsi rumah tangga penyumbang terbesar (58,6%) terhadap PDB tahun 2009 dan poyeksi 2011 diperkirakan 57.1%. Pertumbuhannya meningkat 5% selama 5 tahun terakhir. Kontribusi investasi di tahun 2011 diperkirakan 31%. Belanja pemerintah proyeksi 2011 menempati porsi terkecil 9.4%, peran pemerintah relatif kecil.

Tabel 5: PDB Sisi Permintaan 2000 - 2009 (%)

Penggunaan
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Konsumsi Rmh Tangga
61.6
61.4
61.1
60.5
60.4
64.3
62.6
63.5
60.6
58.6
Konsumsi Pemerintah
6.5
6.7
7.3
7.7
7.4
8.1
8.6
8.3
8.4
9.6
PMTB (Investasi)
19.8
20.3
20.4
19.6
21.7
23.6
24.1
24.9
27.7
31.1
Ekspor
40.9
39.7
37.6
38.7
40
34.1
31.6
29.4
29.8
24.1
Impor
30.4
30.5
28
27.4
32.6
29.9
25.6
25.4
28.7
21.3
ICOR

5.52
4.87
4.23
4.44
4.5
4
3.77
4.18
5.32
Sumber : CEIC data dan Nota Keuangan
Dengan tingginya belanja konsumsi dibanding investasi terhadap PDB, investasi yang terbentuk sulit memenuhi permintaan belanja konsumsi lebih besar. Hal ini terlihat dari perkembangan ICOR (Incremental Capital Output Ratio) selama 10 tahun terakhir tidak menunjukan perbaikan yang signifikan. Kebijakan investasi perlu diperbaiki.

Pertumbuhan Kewilayahan
Memperhatikan Tabel 6, selama 10 tahun Otonomi Daerah pemerataan pembangunan belum berubah.Tanpa koreksi, ketimpangan pembangunan antar wilayah terus terjadi. Jawa dan Sumatera tetap mendapat distribusi PDRB lebih 2/3 dari total GDP nasional.

Tabel 6 : PDRB Menurut Pulau Besar

Regional
1971
1980
1990
2008
Sumatera
29,0
32,3
25,2
21,6
Jawa
54,5
46,5
56,8
60,7
Bali dan Nusa Tenggara
3,4
2,5
2,9
2,7
Kalimanatan
5,4
11,3
9,1
8,8
Sulawesi
6,0
4,8
4,1
4,6
Maluku Papua
1,7
2,6
1,9
1,6

100,0
100,0
100,0
100,0
Sumber : Nazara, 2009
Pembangunan kewilayahan merupakan kombinasi yang sinerggis antara kebijakan regulasi (terutama izin dan pajak serta pungutan) dan anggaran (terutama public investment). Kebijakan atas penggunaan kedua alat pemerintahan tersebut bukan saja menunjukkan keberpihakan politik pembangunan pemerintahan, baik pusat maupun daerah, tetapi sekaligus arah dan strategi pilihan rakyat atas pemimpin yang dipilihnya, sejak reformasi dan demokratisasi. Tabel-tabel berikut menunjukkan kondisi pembangunan, terutama dikaitkan politik pembangunan bagi sebesar-besarnya bermanfaat bagi kemakmuran rakyat. Kita berharap pada tahun-tahun berikutnya kondisi kesejahteraan akan menjadi lebih baik.

LAMPIRAN-LAMPIRAN
IPM PROVINSI, KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT, 2005 – 2006
Provinsi Kabupaten/Kota
2005
2006
2007
2008
IPM
Peringkat
IPM
Peringkat
IPM
Peringkat
IPM
Peringkat
Sumatera Barat
71,2
9
71,6
9
72,2
9
73
9
Kepulauan Mentawai
67,4
281
67,5
317
67,7
338
68
360
Pesisir Selatan
68,4
240
69,1
239
69,5
243
70,1
253
Solok
68,3
242
68,9
254
69,3
258
69,8
266
Sawah Lunto/Sijunjung
67,1
292
68,7
264
69,3
263
69,8
271
Tanah Datar
71,6
108
71,9
124
72,4
123
73
119
Padang Pariaman
68,8
217
69,5
220
70,1
220
70,6
228
Agam
71,1
133
71,8
127
72,1
139
72,5
144
Limapuluh Koto
68,7
225
69
247
69,5
244
70,5
238
Pasaman
69,7
181
70,6
176
71,1
186
71,7
186
Solok Selatan
65,8
345
67,1
334
67,5
347
68,1
354
Dharmas Raya
64,5
382
66,4
365
67,5
350
68
359
Pasaman Barat
67
296
68,3
287
68,8
291
69,3
302
Kota Padang
76,3
10
76,5
12
76,7
14
77,2
16
Kota Solok
73,4
65
73,8
64
74,3
67
74,7
68
Kota Sawah Lunto
73,1
74
73,5
74
73,7
80
74,3
81
Kota Padang Panjang
76
17
76,1
19
76,4
23
76,9
23
Kota Bukit Tinggi
76,1
15
76,6
11
77,1
10
77,6
10
Kota Payakumbuh
73,5
61
73,9
62
74,4
65
75
63
Kota Pariaman
71,3
122
72,6
90
72,8
104
73,4
100
Sumber : BPS, 2010
IPM PROVINSI, KABUPATEN/KOTA DI SUMATERA BARAT, 2005 - 2006
Provinsi Kabupaten/Kota
2005
2006
2007
2008
IPM
Peringkat
IPM
Peringkat
IPM
Peringkat
IPM
Peringkat
Sumatera Barat
71,2
9
71,6
9
72,2
9
73
9
Kepulauan Mentawai
67,4
281
67,5
317
67,7
338
68
360
Pesisir Selatan
68,4
240
69,1
239
69,5
243
70,1
253
Solok
68,3
242
68,9
254
69,3
258
69,8
266
Sawah Lunto/Sijunjung
67,1
292
68,7
264
69,3
263
69,8
271
Tanah Datar
71,6
108
71,9
124
72,4
123
73
119
Padang Pariaman
68,8
217
69,5
220
70,1
220
70,6
228
Agam
71,1
133
71,8
127
72,1
139
72,5
144
Limapuluh Koto
68,7
225
69
247
69,5
244
70,5
238
Pasaman
69,7
181
70,6
176
71,1
186
71,7
186
Solok Selatan
65,8
345
67,1
334
67,5
347
68,1
354
Dharmas Raya
64,5
382
66,4
365
67,5
350
68
359
Pasaman Barat
67
296
68,3
287
68,8
291
69,3
302
Kota Padang
76,3
10
76,5
12
76,7
14
77,2
16
Kota Solok
73,4
65
73,8
64
74,3
67
74,7
68
Kota Sawah Lunto
73,1
74
73,5
74
73,7
80
74,3
81
Kota Padang Panjang
76
17
76,1
19
76,4
23
76,9
23
Kota Bukit Tinggi
76,1
15
76,6
11
77,1
10
77,6
10
Kota Payakumbuh
73,5
61
73,9
62
74,4
65
75
63
Kota Pariaman
71,3
122
72,6
90
72,8
104
73,4
100
Sumber : BPS, 2010

Kesimpulan:
Perekonomina Indonesia setiap tahummya berubah ubah baik dalam ruang lingkup dunia,daerah maupun regional.Dan setiap negara mempumyai keterkaitan satu dengan yang lain.Krisis ekonomi global dapat mempercepat pergeseran kekuatan di tingkat dunia termasuk indonesia. Itu semua dapat dilihat dari peningkatan perdagangan, kususnya di negara-negara berkembang. Selain itu, industrilisasi juga tumbuh diikuti dengan urbanisasi dan peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah diemerging market, khususnya Asia.

BAB 3 PENUTUP

          Demikian yang dapat saya Jelaskan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentang Peta perekonomian Indonesia tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
  Saya banyak berharap para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada saya demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan - kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi saya pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.